Galeri Ulama Salaf: Renungan
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Hj Khoiriyah Hasyim Inspirasi Perempuan Di Pesantren

Nyai Khoiriyah Hasyim lahir di Tebuireng, pada tahun 1906. Beliau merupakan putri Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pembesar NU. Mbaknya KH. A. Wahid Hasim yang sejak kecil mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya.
Nyai Khairiyah Hasyim acapkali mengikuti pengajian ayahnya dari balik satir. Tak seperti saudara laki-lakinya yang mendapatkan kesempatan menimba ilmu diluar rumah. Kendati demikian, tak mengurangi semangat belajar keilmuan dan akhlak yang terpuji. Selain belajar ilmu Al-Qur’an juga belajar kitab kuning. Beliau memiliki ketekunan dan kemandirian dalam hal belajar, juga keberanian bilamana tak paham dengan apa yang dipelajari.

https://galeriulamasalaf.blogspot.com

Jika menemui kesulitan dalam belajar maka dengan segera bertanya langsung kepada ayahnya. Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan pembimbing utamanya. Baik dalam hal keilmuan, kepribadian, dan hal lainnya. Tentu saja, ibunya juga ikut serta berkontribusi. Terlahir dari keluarga terdidik dan agamis begitu juga dengan lingkungannya, ikut serta mendorong Nyai Khoiriyah dalam belajar dan bergaul. Tentu hal itu menjadi istimewa. Tak semua orang bisa senasib dengannya. Kata sebagian orang beda nasab beda nasib. Tapi tidak juga, banyak orang nasab kurang baik tapi bisa melampui

Pada umur 13 tahun Nyai Khoiriyah Hasyim sudah terlihat dewasa. Maka dari itulah ayahnya lantas menikahkan dengan salah seorang santrinya yang pandai dan alim, yakni; KH. Ma’sum Ali, santri asal Maskumbambang, Gresik. Beliau merupakan salah satu santri senior Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Suami Nyai Khoiriyah dikenal pandai dan alim. Ahli dibidang ilmu falak, ilmu sharaf, dan ilmu lainnya. Kitab Amtsilatu Tasrifiyah yang selalu menjadi pegangan dan pedoman para santri di seluruh pesantren di Indonesia merupakan karya suami Nyai Khoiriyah.

Mendapatkan suami yang pandai dan alim tentu menjadikan beliau sangat bahagia dunia dan akhirat. Beliau pun banyak mengaji langsung kepada suaminya sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan yang selama ini diperoleh dari ayahnya, beberapa kitab kuning yang dipelajari; kitab fiqh, hadis, Tafsir jalalain, Fathul Muin, Tahrir Asymuni, Jauhar Maknun Alfiyah, Jamiul Jawami, al-Hikam, dan lainnya. Setelah menikah dengan KH. Maksum Ali, Nyai Khoiriyah Hasyim menempati rumah sederhana di dusun seblak. Inilah cikal bakal berdirinya pesantren Seblak

Pada tahun 1930,  membuka Madrasah Salafiyah Syafiiyah, TK Ibtidaiyah yang masih tingkatan sifir awaldan tsani. Jika para santri ingin belajar lebih tinggi maka disuruh melanjutkan di Pesantren Tebuireng. Kiai Maksum Ali meski memiliki pesantren sendiri namun masih ikut mengajar di Tebuireng. Konon beliau juga pernah menjadi lurah pondok pesantren Tebuireng seperti KH. A. Wahab Hasbullah selama menyantri dibawah asuhan kiai Hasyim Asy’ari. Kehidupan Nyai Khoiriyah dengan suaminya berjalan penuh dengan keharmonisan.

Dikarunia dua putri, Abidah dan Jamilah. Keduanya inilah calon penerus perjuangan orangtuanya di Pesantren Seblak. Perjalanan pernikahan yang dibangun dengan Kiai Maksum Ali tiba-tiba roboh. Suaminya yang begitu dicintainya wafat. Tentu menjadi pukulan berat bagi Nyai Khoiriyah Hasyim. Beliau pun menggantikan suaminya menjadi pengasuh pesantren. Amat langka di zaman itu, perempuan menjadi pengasuh pesantren. Pesantren Seblak dalam kendalinya. Dari mulai urusan pengajian hingga pembinaan santri.

Pada tahun 1938 Nyai Khoiriyah Hasyim di persunting oleh KH. Muhaimin. Seorang kiai yang cakap ilmu dan alim. Beliau berasal dari Lasem Jawa Tengah. Suaminya merupakan kepala Madrasah Darul Ulum di Makkah. Setelah menikah maka Nyai Khoiriyah pun meninggkalkan kampung halaman. Beliau tinggal di Makkah bersama suaminya. Bahkan,mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum perempuan yakni, Madrasatul Bannat. Tentunya menjadi salah satu sosok perempuan pesantren pertama yang menjadi orang besar dan berpengaruh di tanah suci.

Di Makkah kehidupan Nyai Khoriyah Hasyim kembali menemui jalan pahit dan getir. Dimana suami yang begitu dicintai dan disayangi kembali meninggalkannya. Dua lelaki hebat yang pernah bersanding dengannya selalu diambil sang Maha Hidup lebih dahulu. Setelah, Kiai Muhaimin wafat pada tahun 1956 Nyai Khairiyah pun tetap sabar menerima semuanya dengan ikhlas

Selama 20 tahun lebih beliau hidup di Makkah, tentu bukan waktu yang singkat. Kepulangannya ke tanah kelahirannya, Indonesia berkat ajakan Presiden Soekarno. Beliau selaku orang nomor satu di republik ini, membutuhkan sosok orang hebat untuk diajak berjuang bersama membangun negeri ini, maka Putri Hadrtussyaikh ini mau pulang. Sejak kepulangannya dari tanah suci, beliaupun menuju Jombang. Dimana keluarga berkumpul disana

Intelektualitas Nyai Khairiyah Hasyim tidak ada yang meragukan. Baik terhadap penguasaan terhadap kitab kuning, manajemen pendidikan, ketrampilan, dan lainnya

Selain ahli ilmu Nyai Khoiriyah Hasyim juga memiliki ketrampilan, yakni mendesain dan membuat kerudung buat kaum perempuan, bernama Rubu’. Karyanya tersebut dilatari oleh salah satunya fenomena kerudung yang saat itu dipandangnya kurang elegan. Desainer Perempuan dari pesantren Seblak pun menjadikan seragam wajib bagian atas bagi para santrinya. Hingga kini pun kerudung rubu menjadi identitas santriwati Seblak

Dalam Islam ada beberapa perempuan yang layak dijadikan inspirasi. Seperti, Khadijah, Aisyah, Adawiyah, dll. Nyai Khairiyah merupakan salah satu representasi dari kaum hawa yang berasal dari pesantren. Beliau tak kalah hebat dengan orang_orang hebat di zamannya baik yang dari kalangan laki laki maupun perempuan. Sampai kapanpun, namanya akan selalu harum. Layak, bagi anda para kaum perempuan yang sedang berproses belajar utamanya santriwati yang ada di Pesantren

Makna Dibalik Filosofi Ketupat


Konon ketupat adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa.

Sejarah Filosofi ketupat

Filosofi ketupat

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu
bakda Lebaran dan
bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Arti Kata Ketupat

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus.
Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari :
NGAKU LEPAT dan LAKU PAPAT.
Ngaku lepat artinya MENGAKUI KESALAHAN.
Laku papat artinya EMPAT TINDAKAN.

NGAKU LEPAT.

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat
(mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua,
bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

LAKU PAPAT.

1. LEBARAN.
2. LUBERAN.
3. LEBURAN.
4. LABURAN.

LEBARAN
Sudah usai,
menandakan berakhirnya waktu puasa.

LUBERAN
Meluber atau melimpah,
ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

LEBURAN
Sudah habis dan lebur.
Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis
karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

LABURAN
Berasal dari kata labur,
dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air
maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

FILOSOFI KUPAT - LEPET

KUPAT
Kenapa mesti dibungkus JANUR ?
Janur, diambil dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ).
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat HATI manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti
KUPAT YANG DIBELAH,
pasti isinya putih bersih,
hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa?
Karena hatinya sudah dibungkus CAHAYA (ja'a nur).

LEPET
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita KUBUR/TUTUP YANG RAPAT.
Jadi setelah ngaku lepet,
meminta maaf,
menutup kesalahan yang sudah dimaafkan,
jangan diulang lagi,
agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya KETAN DALAM LEPET.

Sedikit tambahan dari filosof ketupat..janur juga bermaksud jan= tdk nampak/halus nur =cahaya..keras beras spt batu ituvumpama dosa kemudian direbus dgn lama tanda dosa itu terlebur.kias dari bakaran org yg berdosa dineraka kmudian terbersih akibat bakaran..ketupat berbucu lima tanda rukun islam yg lima..ktupat brbucu empat adlh kias dari syariat tarekat hakikat dan marifat..begitulah yg sy dwngar dari arwah embah2..kolum yg sgt baik..flsafah keseluruhan ttg ketupat adlh ttg insan hati dan persediaan hidup manusia..

Tentang bakda disebut dlm jawa sebagai bo' dho ( bersama/ hari besar)  bo' dho kupat adalah meraikan org yg berpuasa enam..hari keraian bagi yg mengucapkan selamat tggal dan kerinduan  kepada ramadhan..puasa enam itu diibaratkan spt solat sunat rawatib..buat menutup kekurangan puasa dlm waktu ramadhan..begitulah para wali mengajarkan adabbdan mahabbah melalui apa yg dimakan sbg tanda utk terus mensyukuri nikmat

Allah..wallahualam..inilah cerita org dulu yg mmbuatkan kita dekat itk mnghargai ulama trrdahulu yg mnyampaikan risalah agama Allah ini..alfatihah buat ulama dan nenek moyang terdahulu

Belajar Sholat Khusyuk


Belajar SHOLAT KHUSYU, "Dhahir dan Batin Kepada Tuan Guru Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, yang sesuai dengan tuntunan baginda Rasulullah Muhammad SAW.


"Barangsiapa yang ibadah syariat yang LAHIR saja tanpa disertai Hakikat yang BATIN maka dia Fasik (hanya tau kulitnya saja),

"Dan barangsiapa yang hanya ibadah Da'im yang Hakikat BATIN saja tanpa disertai dengan ibadah syariat yang LAHIR maka ia ZINDIK(Ibadahnya ditolak Allah)."

Tetapi jika kita beribadah yang menyertakan LAHIR dan BATIN , dilaksanakan kedua-duanya maka itulah hamba INSAN KAMIL yang sempurna ibadahnya.

Karena TERBANG ke hadrat ridho Allah itu harus dengan dua sayap,
Yaitu sayap lahir(syariat) dan sayap batin (hakikat).

Jika hanya dengan satu sayap  tidak akan bisa," Merasa sudah sampai Ma'rifat padahal itu jalan ditempat, berputar putar di alam malakut saja....!! Tidak tembus ke arsy dan kursi.. Dan tak sampai ke alam jabarut dan ke alam Lahut.

Didalam shalat itu harus ada tiga hal yang sangat penting :

1. Rukun Qouliyah

Yaitu berupa bacaan-bacaan yang harus diucapkan didalam setiap gerakan shalat, cara melafazkan bacaan sholat harus tartil yaitu tidak tergesa-gesa dan tertib sesuai dengan hukum tajwidnya.

2. Rukun Fi’liyah

Yaitu, berupa gerakan-gerakan yang harus ada dalam shalat seperti : berdiri, ruku’, i’tidal, sujud dan lain-lain itu harus sesuai dengan ilmu Fiqih yang dicontohkan Rasulullah SAW.

3. Rukun Qolbiyah

Yaitu hadirnya hati untuk selalu berdzikir (ingat) kepada Allah SWT sewaktu sholat.

Ketiga hal tersebut di atas disebut rukun, karena ketiganya harus ada dalam shalat.

Shalat yang baik dan benar adalah shalat yg dilaksanakan dengan hati yang selalu mengingat Allah (berdzikir), dengan gerakan-gerakan dan ucapan yang benar, sehingga timbulah (DZAUK) atau cita rasa bathiniah yaitu kemesraan yang mendalam antara hamba dg Tuhan-nya yang disebut dzikir ruh dan dzikir sirr..

Sehingga sholat bukan hanya GERAK BADAN saja tetapi juga GERAK NYAWA dan GERAK RASA, secara simultan.

A. Badannya bergerak sesuai aturan Fiqih Rasululloh SAW.

B. Nyawanya bergerak dengan hadir hati bersama Allah dengan dzikir qalbu (Khofi).

C. Rasanya juga bergerak dan selalu merasa mesra dan cinta kepada yang disembahnya (Allah) sehingga sholatnya terasa asyik, nikmat dan khusyu.

Jika sholatnya demikian maka lebih dahsyat dari meditasi dan yoga, bahkan Sabda Rasulullah SAW :

"Sholat itu Mi'raj nya orang beriman".
(Sholat itu Mi'rajul Mu'minin).
Ketika sholat hatinya mampu menembus arsy dan Sidratul Muntaha ke hadirat Allah SWT.

Tuan Guru Syeikh Abdul Qodir Al jailani dalam kitabnya Sirrul Asror pasal 14 tentang shalat syari’at dan shalat tarekat, mengatakan bahwa dalam shalat itu harus disatukan antara JASAD, NYAWA dan RASA.

Jangan sampai jasadnya shalat tetapi hatinya lalai, ingat ke pekerjaan, anak dan istri, harta dan lain-lain. Melalui tarekatlah ketiga hal diatas dapat disatukan untuk bersama-sama menghadap Allah SWT.

Semoga kita bisa shalat dengan khusyu dhahir dan bathin atas hidayahnya,

Aamiin

Akibat Mencaci Maki Ahli Zuriat Rosululloh





http://galeriulamasalaf.blogspot.com

Di dalam kitab “Makrifatu Muhammad” saya mendapati sebuah kisah menarik tentang kisah nyata yang dikisahkan oleh para ulama.

Terkisahlah pada zaman dahulu ada seorang ulama yang memiliki kharisma, berilmu luas, serta memiliki murid yang banyak. Namun, sayangnya dibalik jubah keulamaannya, dia tidak memiliki kebersihan hati, sehingga tidak mampu membedakan kemuliaan ahli bait Rosulillah.


Pada saat yang sama di kawasan tempat tinggal ulama itu terdapat seorang Habib zuriat Rosululloh yang senang berbuat maksiat, mabuk-mabukkan, serta berjudi. Si ulama yang sedemikian tidak menyenangi keturunan para Habaib itu semakin menjadi-jadi kebenciannya.

Dalam setiap kesempatan ceramah maupun bertemu dengan siapa pun si ulama besar itu selalu mencela dan memaki si habib yang senang mengerjakan maksiat itu. Sang Ulama mengajak dan menyerukan para murid-muridnya untuk membenci dan menjauhi Habib tersebut.


Sampai pada suatu malam, sang Ulama bermimpi bertemu dengan baginda Rosululloh al-Musthofa Datuk semua Habaib ( Para Habib) dan Syaroif ( Para Syarif ). 


Dalam mimpinya memang diyakini beliau adalah Rosululloh. Dikuatkan dengan suara, “Inilah Rosululloh yang mulia!”.


Namun sayang seribu kali sayang, mimpi mulia yang seharusnya menjadi anugerah terbesar dan idaman semua orang yang beriman justru menjadi sebuah mimpi buruk bagi sang ulama yang berbuah kekecewaan dan kesedihan. 


Apa pasalnya?


Dalam mimpi itu baginda Rosululloh Shollallohu alaihi wassalam tidak berkenan menampakkan wajah mulianya. Baginda berpaling punggung.

Sang Ulama pun bermohon dalam mimpinya, “Wahai Rosulillah yang mulia, mohon kiranya saya diperkenankan untuk menatap wajah mulia engkau wahai Rosululloh! Berilah syafaat padaku” pintanya. 


Lantas apa jawaban Rosululloh dalam mimpi tersebut.
“Wahai fulan! Bagaimana mungkin aku memperlihatkan wajahku padamu, sedangkan engkau tak mengenali anak cucuku? Bagaimana mungkin aku menatapmu, sedangkan engkau memalingkan wajahmu dari menatap anak cucuku? Bagaimana mungkin aku memberimu syafa'at, sedangkan engkau memusuhi anak cucuku dan engkau mengajak orang lain untuk membenci dan menjauhi anak cucuku?!”


Demi mendengar jawaban itu, Sang Ulama menangis sejadi-jadinya, hingga ia terbangun dari tidurnya. 


Keesokan harinya, sang ulama tersebut bergegas mencari seorang Habib yang sering dicapnya sebagai ahli maksiat. Namun, habib yang dicari tidak didapati keberadaannya di tempat ia biasa berada. 


Sang Habib seperti menghilang di telan bumi.

Berselang beberapa minggu kemudian, tepatnya 40 hari, semenjak peristiwa mimpi itu, sang ulama mendengar kabar bahwa habib itu meninggal dunia di sebuah masjid dalam keadaan bersujud. Si habib terah bertaubat atas bimbingan kakeknya, Rosululloh al-Musthofa Shollallohu alaihi wasallam. Masya Alloh Tabarokalloh.


Tinggal si ulama itu dengan penuh penyesalan.

Akhir dari kisah itu, Alloh cabut keberkahan ilmu dari ulama itu. Murid-muidnya satu persatu berhenti dari majlis pengajiannya. Sang ulama terfitnah dan dipenjarakan. Dan akhir dari perjalanan hidupanya Sang Ulama PEMBENCI HABAIB meninggal dalam keadaan SU’UL KHOTIMAH ( AKHIR YANG BURUK )



Qishoh ini bukan sebuah LEGITIMASI dan PEMBENARAN bahwa para Ahli Bait Rosulilloh boleh melakukan kemaksiatan serta melanggar hukum ketentuan Alloh. Bukan sama sekali!


Namun, kisah ini mengajarkan kepada kita tentang SEBUAH PENGAJARAN ADAB DAN AKHLAQ UNTUK MEMULIAKAN AHLUL BAIT NABI (DZURIYYAH ROSULULLOH S.A.W). 


Sebab 


KEBERKAHAN ILMU
KEBERKAHAN AMAL SHOLEH
KEBERKAHAN SYAFA'AT 


tidak akan diperoleh, melainkan dari KECINTAAN DAN KEREDHOAN BAGINDA ROSULULLOH S.A.W.


Salah satu jalan mencapai keridhoan tersebut adalah MENCINTAI dan MENGHORMATI AHLI BAIT DZURIYYAH ROSULILLAH MUHAMMAD SHOLALLOHU ALAIHI WA SALLAM. 


Kata guru kami Syaikhuna Al-Alimul al-Allamah Syekh Zaini Abdul Ghani Martapura Kalimantan Selatan beliau mengatakan, “Seseorang masih terhalang memperoleh kecintaan Rosululloh, selama masih ada permasalahan dengan ahli bait Rosululloh.”


Para Habaib, para Syarif, para Syarifah bukanlah manusia suci yang terbebas dari dosa dan kemaksiatan. Mereka sama seperti kita. Namun membedakan antara mereka dengan kita, di dalam aliran darah dan daging mereka mengalir darah daging (DZATIYYAH) manusia teragung dan termulia, Rosululloh al-Musthofa.


Biarlah soal dosa dan kesalahan yang mereka lakukan menjadi urusan mereka dengan Alloh dan kakeknya. Tugas kita mendoakan agar mereka mendapatkan petunjuk hidayah.

Oleh karena itulah, ADAB dan SIKAP terbaik kita ketika menemui mereka yang melakukan maksiat, janganlah kita ikut-ikutan memusuhi dan membenci mereka. Buru-buru memvonis mereka, menjauhi mereka.


Jangan sampai mencela dan memaki mereka. Apalagi memfitnah dan mempolitisasi mereka atas dasar dugaan yang belum pasti hingga menginginkan mereka celaka atau masuk penjara.


Hukum tetaplah hukum yang tetap dijunjung tinggi, baik hukum syariat maupun hukum konstitusi. Biarkan para pakar ahli hukum dan pihak pengadilan yang berwenang memutuskan bersalah atau tidaknya.


Sikap terbaik kita adalah mendoakan jika mereka memang benar bersalah agar Alloh segera mengampuni dan memberikan hidayah.
Dan jika mereka berada di jalan yang benar, semoga Alloh melindungi mereka atas KEJAHATAN & MAKAR DARI ORANG-ORANG YANG MEMBENCI MEREKA PARA HABAIB. Hal ini kita lakukan semata-mata ATAS DASAR KECINTAAN kita kepada Rosululloh shollallohu alaihi wassalam.


Sekali lagi, sikap ini bukan pengkultusan terhadap AHLU BAIT keturunannya, namun sebuah sikap adab cara menghormati dan memuliakan Rosululloh shollallohu alaihi wasallam.


Bukankah Rosululloh tidak pernah meminta apapun dari perjuangan beliau, melainkan agar kita umatnya menyayangi dan memuliakan anak cucu keturunannya yang pada hakikatnya mencintai kakeknya baginda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Dan jelas di dalam al-Qur’an secara eksplisit Alloh menyebutkan keutamaan para ahli bait Rosulillah serta menyucikan mereka.


Dan bagi zuriat Rosulillah, alangkah bagusnya menjadi figur yang mengajarkan kecintaan kepada Alloh dan Rosululloh. 


Jika mereka mengamalkan kebaikan, maka mereka akan memperoleh pahala dan keutamaan berganda lipat. Sebaliknya jika dengan posisi mereka sebagai ahli bait Rosululloh mengerjakan kemaksiatan tentu dosanya juga berkali lipat. 

Alloh Maha Adil.


Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kecintaan Rosululloh serta menjadi bagian orang yang mencintai ahli keluarga zuriat beliau bukankah di setiap sholat ketika bersholawat kepada Rosululloh dan kepada ahli zuriat Aali Muhammad shollallohu alaihi wassalam. 


Semoga bermanfaat. 


Wallohu ‘alamBAB ADAB


Akibat Mencaci Maki Ahli Zuriat Rosululloh


Di dalam kitab “Makrifatu Muhammad” saya mendapati sebuah kisah menarik tentang kisah nyata yang dikisahkan oleh para ulama.
Terkisahlah pada zaman dahulu ada seorang ulama yang memiliki kharisma, berilmu luas, serta memiliki murid yang banyak. Namun, sayangnya dibalik jubah keulamaannya, dia tidak memiliki kebersihan hati, sehingga tidak mampu membedakan kemuliaan ahli bait Rosulillah.


Pada saat yang sama di kawasan tempat tinggal ulama itu terdapat seorang Habib zuriat Rosululloh yang senang berbuat maksiat, mabuk-mabukkan, serta berjudi. Si ulama yang sedemikian tidak menyenangi keturunan para Habaib itu semakin menjadi-jadi kebenciannya.
Dalam setiap kesempatan ceramah maupun bertemu dengan siapa pun si ulama besar itu selalu mencela dan memaki si habib yang senang mengerjakan maksiat itu. Sang Ulama mengajak dan menyerukan para murid-muridnya untuk membenci dan menjauhi Habib tersebut.


Sampai pada suatu malam, sang Ulama bermimpi bertemu dengan baginda Rosululloh al-Musthofa Datuk semua Habaib ( Para Habib) dan Syaroif ( Para Syarif ). 


Dalam mimpinya memang diyakini beliau adalah Rosululloh. Dikuatkan dengan suara, “Inilah Rosululloh yang mulia!”.


Namun sayang seribu kali sayang, mimpi mulia yang seharusnya menjadi anugerah terbesar dan idaman semua orang yang beriman justru menjadi sebuah mimpi buruk bagi sang ulama yang berbuah kekecewaan dan kesedihan. 


Apa pasalnya?


Dalam mimpi itu baginda Rosululloh Shollallohu alaihi wassalam tidak berkenan menampakkan wajah mulianya. Baginda berpaling punggung. Sang Ulama pun bermohon dalam mimpinya, “Wahai Rosulillah yang mulia, mohon kiranya saya diperkenankan untuk menatap wajah mulia engkau wahai Rosululloh! Berilah syafaat padaku” pintanya. 


Lantas apa jawaban Rosululloh dalam mimpi tersebut.
“Wahai fulan! Bagaimana mungkin aku memperlihatkan wajahku padamu, sedangkan engkau tak mengenali anak cucuku? Bagaimana mungkin aku menatapmu, sedangkan engkau memalingkan wajahmu dari menatap anak cucuku? Bagaimana mungkin aku memberimu syafa'at, sedangkan engkau memusuhi anak cucuku dan engkau mengajak orang lain untuk membenci dan menjauhi anak cucuku?!”


Demi mendengar jawaban itu, Sang Ulama menangis sejadi-jadinya, hingga ia terbangun dari tidurnya. 


Keesokan harinya, sang ulama tersebut bergegas mencari seorang Habib yang sering dicapnya sebagai ahli maksiat. Namun, habib yang dicari tidak didapati keberadaannya di tempat ia biasa berada. 


Sang Habib seperti menghilang di telan bumi.


Berselang beberapa minggu kemudian, tepatnya 40 hari, semenjak peristiwa mimpi itu, sang ulama mendengar kabar bahwa habib itu meninggal dunia di sebuah masjid dalam keadaan bersujud. Si habib terah bertaubat atas bimbingan kakeknya, Rosululloh al-Musthofa Shollallohu alaihi wasallam. Masya Alloh Tabarokalloh.


Tinggal si ulama itu dengan penuh penyesalan.

Akhir dari kisah itu, Alloh cabut keberkahan ilmu dari ulama itu. Murid-muidnya satu persatu berhenti dari majlis pengajiannya. Sang ulama terfitnah dan dipenjarakan. Dan akhir dari perjalanan hidupanya Sang Ulama PEMBENCI HABAIB meninggal dalam keadaan SU’UL KHOTIMAH ( AKHIR YANG BURUK ).


Qishoh ini bukan sebuah LEGITIMASI dan PEMBENARAN bahwa para Ahli Bait Rosulilloh boleh melakukan kemaksiatan serta melanggar hukum ketentuan Alloh. Bukan sama sekali!


Namun, kisah ini mengajarkan kepada kita tentang SEBUAH PENGAJARAN ADAB DAN AKHLAQ UNTUK MEMULIAKAN AHLUL BAIT NABI (DZURIYYAH ROSULULLOH S.A.W). 


Sebab 


KEBERKAHAN ILMU
KEBERKAHAN AMAL SHOLEH
KEBERKAHAN SYAFA'AT 


tidak akan diperoleh, melainkan dari KECINTAAN DAN KEREDHOAN BAGINDA ROSULULLOH S.A.W.


Salah satu jalan mencapai keridhoan tersebut adalah MENCINTAI dan MENGHORMATI AHLI BAIT DZURIYYAH ROSULILLAH MUHAMMAD SHOLALLOHU ALAIHI WA SALLAM. 



Kata guru kami Syaikhuna Al-Alimul al-Allamah Syekh Zaini Abdul Ghani Martapura Kalimantan Selatan beliau mengatakan, “Seseorang masih terhalang memperoleh kecintaan Rosululloh, selama masih ada permasalahan dengan ahli bait Rosululloh.”


Para Habaib, para Syarif, para Syarifah bukanlah manusia suci yang terbebas dari dosa dan kemaksiatan. Mereka sama seperti kita. Namun membedakan antara mereka dengan kita, di dalam aliran darah dan daging mereka mengalir darah daging (DZATIYYAH) manusia teragung dan termulia, Rosululloh al-Musthofa.


Biarlah soal dosa dan kesalahan yang mereka lakukan menjadi urusan mereka dengan Alloh dan kakeknya. Tugas kita mendoakan agar mereka mendapatkan petunjuk hidayah.

Oleh karena itulah, ADAB dan SIKAP terbaik kita ketika menemui mereka yang melakukan maksiat, janganlah kita ikut-ikutan memusuhi dan membenci mereka. Buru-buru memvonis mereka, menjauhi mereka.


Jangan sampai mencela dan memaki mereka. Apalagi memfitnah dan mempolitisasi mereka atas dasar dugaan yang belum pasti hingga menginginkan mereka celaka atau masuk penjara.


Hukum tetaplah hukum yang tetap dijunjung tinggi, baik hukum syariat maupun hukum konstitusi. Biarkan para pakar ahli hukum dan pihak pengadilan yang berwenang memutuskan bersalah atau tidaknya.


Sikap terbaik kita adalah mendoakan jika mereka memang benar bersalah agar Alloh segera mengampuni dan memberikan hidayah.

Dan jika mereka berada di jalan yang benar, semoga Alloh melindungi mereka atas KEJAHATAN & MAKAR DARI ORANG-ORANG YANG MEMBENCI MEREKA PARA HABAIB. Hal ini kita lakukan semata-mata ATAS DASAR KECINTAAN kita kepada Rosululloh shollallohu alaihi wassalam.


Sekali lagi, sikap ini bukan pengkultusan terhadap AHLU BAIT keturunannya, namun sebuah sikap adab cara menghormati dan memuliakan Rosululloh shollallohu alaihi wasallam.


Bukankah Rosululloh tidak pernah meminta apapun dari perjuangan beliau, melainkan agar kita umatnya menyayangi dan memuliakan anak cucu keturunannya yang pada hakikatnya mencintai kakeknya baginda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Dan jelas di dalam al-Qur’an secara eksplisit Alloh menyebutkan keutamaan para ahli bait Rosulillah serta menyucikan mereka.


Dan bagi zuriat Rosulillah, alangkah bagusnya menjadi figur yang mengajarkan kecintaan kepada Alloh dan Rosululloh. 


Jika mereka mengamalkan kebaikan, maka mereka akan memperoleh pahala dan keutamaan berganda lipat. Sebaliknya jika dengan posisi mereka sebagai ahli bait Rosululloh mengerjakan kemaksiatan tentu dosanya juga berkali lipat. 


Alloh Maha Adil.


Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kecintaan Rosululloh serta menjadi bagian orang yang mencintai ahli keluarga zuriat beliau bukankah di setiap sholat ketika bersholawat kepada Rosululloh dan kepada ahli zuriat Aali Muhammad shollallohu alaihi wassalam. 


Semoga bermanfaat. 


Wallohu ‘alam


Foto:Kujungan Al Habib Syekhon Kekediaman Maulana Habib Lutfi Bin Yahya Pekalongan.



#galeriulamasalaf

#habaib

#habibluthfi

#habibsyekhon

#ulamaNU

#karomah
Notification
Ini adalah popup notifikasi.
Done